Jembatan KU

Dana Operasional Kegiatan (DOK) Didalam program PNPM DTK merupakan dana yang dip100_2164eruntukkan untuk kegiatan perencanaan yang ada dalam program PNPM DTK sesuai mekanisme Program. Salah satu hasil perencanaan yang merupakan perwujudan dari penggunaan dana DOK dalam proses perencanaan yaitu pembangunan jembatan kayu didesa Toinasa Kecamatan Pamona Barat Kabupaten Poso dengan besar dana BLM kecamatan yang dialokasikan Rp.54.685.300.dengan panjang jembatan 14 meter dan lebar 2 meter dimana didalam pelaksanaan kegiatan pekerjaan jembatan tersebut direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh masyarakat setempat, atau bahasa sehari-harinya biasa disebut swakelola.

Hal menarik dari pembangunan jembatan ini adalah ketika masyarakat memutuskan untuk mengubah desain jembatan tersebut dari jembatan kayu menjadi jembatan permanent (Jembatan Beton) dari perubahan tersebut tentu berimplikasi terhadap terjadinya pembengkakan biaya pembangunan menjadi Rp.71.047.300 dari selisih biaya tersebut sudah tentu akan dibebankan ke masyarakat untuk “berswadaya”. Yang menjadi pertanyaan Mengapa masyarakat menginginkan perubahan tersebut ? Bukankah akan membebani masyarakat itu sendiri ?, tentu jawabannya cukup sederhana yaitu Masyarakat sangat membutuhkan jembatan tersebut sebagai sarana penghubung ke penunjang ekonominya. Dari contoh ini tentu bisa membuka mata kita bahwa untuk meningkatkan keswadayaan masyarakat kita harus bisa “menyelami” apa yang masyarakat butuhkan sehingga dampaknya bukan hanya melihat seberapa besar konstribusi masyarakat tetapi bagaimana menumbuhkan sense of belonging masyarakat terhadap seluruh hasil kegiatan, yang diikuti dengan adanya kepedulian untuk merawat/memelihara atas apa yang mereka sudah bangun.(an.PMC)

2 Comments

  1. Linda said,

    February 26, 2009 at 12:08 pm

    Berada di daerah tertinggal dan miskin tidak bisa diartikan bahwa masyarakat tidak mampu membangun wilayahnya.

    Pengalaman pembuatan jembatan diatas menjadi bukti bahwa yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah pendampingan untuk mampu mengorganisir diri dalam upaya membangun wilayahnya.

    Saya akan sharing cerita dari Lampung:
    Minggu lalu kami melakukan kunjungan di Kecamatan Braja selebah kabupaten Lampung timur. Salah satu usulan masyarakat yang dianggap urgent adalah membuka jalan dari lingkungan persawahan dan ladang menuju jalan utama. Sangat menarik ketika kami melihat bahwa dana BLM dari P2DTK hanya 41 juta sementara swadaya masyarakat adalah 300 juta.

    Artinya, contoh-contoh diatas adalah sedikit dari banyak keberhasilan program dalam menstimulasi masyarakat untuk membangun wilayahnya.

  2. Abdulhakim Languha said,

    August 27, 2009 at 4:17 am

    Saya sangat setuju dengan pernyataan Bu Linda.
    Yang saya pahami, bahwa dana yang tersedia (DOK & BLM) hanya bersifat stimulan saja, paling tidak masyarakat telah diajak untuk menemu kenali permasalahannya serta berdaya untuk mengatasinya.
    Tentunya, ini tergantung pada tenaga pendamping (Fasilitator + KM) yang punya komitmen kuat serta kemampuan fasilitasi.
    Belajar dari Toinasa – Poso dan Lampung, saya secara pribadi akan jadikan cemeti buat kawan kawan di Kalimantan Tengah. Sukses…. !

    PMC Kalteng


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: