Air Bersih Akhirnya Masuk Kerumah…!!!

TPK DESA MARGA MULYA : PEMB. 5 UNIT SUMUR DALAM & BAK PENAMPUNG/DISTRIBUSI AIR BERSIH
KEC. BUNGKU BARAT KAB. MOROWALI – SULAWESI TENGAH

Rasa SYUKUR dan PUAS yang dapat terungkap dari wajah-wajah masyarakat RT 01 dusun I desa Marga Mulya serta masyarakat dari 3 dusun lainnya, karena masalah kebutuhan air yang kurang terpenuhi selama ini, khususnya di musim kemarau, sudah bisa diantisipasi oleh swadaya usaha dan dana warga RT 01 yang ditambah dengan dana stimulan dari PNPM – DTK T.A 2010.
Kegiatan swadaya khusus di RT 01 dusun I sudah berjalan sejak akhir tahun 2008 yaitu tepatnya dibulan November, swadaya masyarakat dipengaruhi kondisi fasilitas infrastruktur desa yang kurang diantaranya kondisi jalan yang rusak, fasilitas listrik yang tidak memadai (menyala hanya 3 jam sehari dengan waktu yang tidak menentu) serta minimnya sarana air bersih. Ketentuan nilai swadaya yang dikumpulkan masyarakat setiap bulanya itu berdasarkan kepemilikan kaplingan kelapa sawit (Rp.100.000)/bulan. Ada 2 KK yang tidak memiliki kaplingan tersebut dan dibebani sekitar Rp. 25.000/bulan. Setiap bulannya dana disetor kepada panitia swadaya yang sudah dibentuk dan diketuai oleh Bapak Kasmin, sebgai bendahara yaitu bapak Sojitno.
Rencana penggunaan dana yang terkumpul selalu dilakukan lewat musyawarah warga. Ada beberapa rencana kegiatan yang menjadi target. Yang pertama adalah pembuatan talud jalan lingkungan dan penimbunan sirtu karena kondisi jalan yang becek saat musim hujan. Rencana kedua yaitu pembelian mesin genset lengkap dengan dynamo karena kondisi kebutuhan listrik yang tidak menentu saat itu, lebih banyak padam ketimbang nyalanya. Dari hasil musyawarah yang dilakukan oleh masyarakat dan berdasarkan prioritas masyarakat, akhirnya rencana kedua yang menjadi proritas untuk segera diimplementasikan. Rencana tersebut sukses dan bisa dinikmati oleh anggota kelompok tersebut, bahkan bisa dipinjamkan pada masyarakat lain untuk keperluan hajatan.
Sukses dengan rencana kedua justru tidak menghentikan kegiatan tarikan dana, sampai kemudian ada kebutuhan untuk melaksanakan rencana ketiga yaitu membangun bak penampungan / distribusi air bersih di sekitar pemukiman guna mempermudah penggunaannya. Yang menjadi pertimbangan yaitu kebutuhan masayarakat terhadap airbersih yang sangat mendesak apalagi setelah mengalami masa kemarau yang cukup lama sehingga banyak sumur-sumur warga yang kering dan pilihan terakhir adalah mengambil air dari sungai yang cukup jauh dari pemukiman, + 2-3 km.
Untuk mengimplementasi rencana tersebut masyarakat mulai mencari sumber air, Memang Tuhan Maha Kuasa dan Pemurah pada umatnya karena sekitar + 300 m dari pemukiman terdapat sumur yang kondisi airnya layak untuk dikonsumsi dan volumenya tidak terpengaruh oleh kondisi musim apa pun. Kondisi inilah yang memberikan inspirasi pada warga sekitar RT dan Dusun I untuk mencoba membangun Bak Penampungan / distribusi air sekaligus memperbaiki kondisi sumur agar lebih layak, terjaga dan terlindungi dari hal-hal yang bisa merusak. Jumlah KK yang turut serta pun bertambah menjadi 15 KK.
Upaya pun dimulai sekitar bulan Maret 2009 dengan mengumpulkan material batu pondasi, pasir, batu merah, kayu tiang, dll dari dana swadaya yang sudah terkumpul. Gayung pun bersambut dengan masuknya program PNPM – Daerah Tertinggal dan Khusus (DTK) dengan pemberian dana stimulan dengan total anggaran yang dialokasikan untuk desa Marga Mulya senilai Rp 44.210.527,- guna membangun sumur gali dalam. Kondisi ini dipengaruhi oleh topografi wilayah yang banyak perbukitan sehingga mempengaruhi kedalaman sumur. Variasi kedalamannya antara 7 – 14 meter dengan kondisi struktur tanah berbatu padas. Hal ini merupakan masalah baru yang ditemui karena tak jarang didapatkan lempengan batu besar di kedalaman 6-8 m, sehingga pekerjaan tidak bisa lagi dilanjutkan dengan proses manual tenaga manusia.
Dengan kondisi di kedalaman yang tidak menentu, maka warga masyarakat khususnya RT 01 sepakat untuk membuat Bak Penampung / distribusi air bersih dengan alokasi dana dari PNPM-DTK TA 2010 senilai Rp. 9.500.000,- Volume bak 3 x 3 x 2,5 m3 = 22,5 m3 atau setara 22.500 liter daya tampung. Untuk pengisian bak penampung digunakan mesin pompa alcon merk Honda seharga Rp 2,38 juta dengan kapasitas air keluar maksimal sekitar 930 liter/detik dengan pipa 2”. Pengisian bak dilakukan 1x sehari ba’da azhar selama 1 – 1,5 jam untuk penambahan volume dan 2x sehari jika selesai dikuras atau ada kebutuhan lain dalam jumlah besar, dengan asumsi volume air yang masuk di bak sebanyak + 150 liter/detik. Penggunaan bahan bakar jika kondisi biasa sebanyak 1,5 liter bensin. Untuk tenaga 1 orang operator pompa sepakat diberi imbalan Rp. 150.000,-per bulan.
Untuk pola distribusi air bersih dipasang dan disalurkan lewat pipa 1 ¼” dengan 1 buah kran. Untuk menambah jumlah kran menjadi tanggungan dari pemanfaat itu sendiri. Air bersih ini sekarang dinikmati/digunakan oleh 15 KK dan 1 mushollah (fasilitas umum) secara terus menerus 24 jam sehari sejak awal tahun 2011 ini, tepatnya tanggal 3 Januari 2011. Biaya yang sudah terserap untuk pembangunan bak penampung/distribusi air dan bak /kolam sumber air sudah berkisar Rp. 30,8 juta yang terinci menjadi Rp. 9,5 juta dana stimulan PNPM-DTK T.A 2010 dan sisanya murni swadaya masyarakat khususnya dari RT 01.
Setelah bak penampung ini digunakan, beritanya pun cepat tersebar dalam desa Marga Mulya yang berpenduduk campuran dari berbagai suku Jawa, Bali, NTB dan lokal sendiri. Hal ini pun menjadi bukti dan pelajaran berharga bagi warga masyarakat lain, bahwa untuk maju dan bisa membangun sebenarnya bisa dimulai dari diri sendiri dan kelompok kecil masyarakat. Keteguhan hati, kejujuran serta keterbukaan dalam pengelolaan dana menjadi kunci keberhasilan pembangunan yang direncanakan oleh masyarakat. (Basuki Tri S. – FK Bungku Barat)

3 Comments

  1. March 17, 2011 at 9:40 pm

    Interesting story, good luck

  2. gamar said,

    March 22, 2011 at 5:12 pm

    terima kasih..beritanya sangat menarik…sebelumnya saya menyampaikan rasa kagum dan salut atas upaya ini. Hal lain yang mungkin perlu ditambahkan adalah bagaimana pelembagaannya. memang benar ada pengelola yang diberi upah 150 ribu per bulan, namun perlu juga dijelaskan bagaimana proses penentuan serta legalisasinya. Misalnya diberikan surat dari warga tentang tata aturan penggunaan, tata aturan kewajibannya dll…dll…dll. saya pikir cerita itu akan menginspirasi teman lain bahwa tugas kita hanya membangun bak air dan mengalirkan air ke rumah-rumah……saya yakin itu sudah dilakukan dan saya berharap pengalaman itu dituliskan agar kami juga bisa belajar

  3. p2dtksulteng said,

    March 23, 2011 at 12:01 pm

    To. Pak Gamar
    Setiap pengambilan keputusan melalui musyawarah dan kelembagaan didalam pengelolaan sarana tersebut berbentuk kelompok swadaya dimana didalamnya ada ketua, sekertaris, bendahara dan legalitas pembentukannya hanya dari masyarakat setempatmelalui Musyawarah (tidak ada legalitas dari pemerintahan),kelompok swadaya ini juga berperan sebagai Tim Pemelihara.
    Didalam pengelolaan sarana tersebut masyarakat dipungut iuran 30 Ribu rupiah perbulan untuk biaya operasional sekaligus termasuk biaya pemeliharaan. Aturan lain yang merupakan kewajiban masyarakat yaitu kesediaan masyarakat untuk mengumpulkan dana jika ada kerusakan yang membutuhkan biaya besar serta bersama melakukan pemeliharaan terhadap sarana tersebut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s