Penanggulangan Gizi Buruk Komprehensif Kab. Banggai

Penanggulangan Gizi Buruk Komprehensif T.A 2010 Kab. Banggai

Kegiatan penanggulangan kasus gizi buruk secara komprehensif dilaksanakan di beberapa wilayah puskesmas terpilih yang terdapat kasus gizi buruknya dengan perioritas lokasi pada kecamatan wilayah program PNPM Mandiri –DTK . Jumlah balita yang mendapat intervensi secara komprehensif pada kegiatan ini sebanyak 30 Balita yang tersebar pada 11 puskesmas di kabupaten Banggai. Kegiatan yang dilakukan dalam penanggulangan kasus secara komprehensif meliputi :

  • Pemeriksaan antropometri dan pengkajian riwayat penyakit dilakukan oleh tenaga pelaksana gizi puskesmas (TPG) dan petugas gizi rumah sakit
  • Pemeriksaan klinis yang dilakukan oleh dokter puskesmas dan dokter rumah sakit
  • Pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan oleh petugas laboratorium puskesmas dan rumah sakit.
  • Pemberian PMT- Lokal dan zat gizi mikro dan susu formula terhadap kasus selama 3 bulan.
  • Hasil dari kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :
    A. Karakteristik Anak Balita dan Orang Tua

    Umur anak balita yang menderita gizi buruk berkisar antara 1 – 41 bulan, dan paling banyak berumur 6 – 24 bulan sebesar 16 anak (53.3%), yang berumur > 24 bulan 30% sedangkan balita dengan kelompok umur 2500 gram) sedangkan balita yang pada saat lahir memiliki BB ¬< 2500 gram (merupakan BBLR) sebanyak 4 orang (13.3%).
    Pemberian ASI eksklusif pada balita yang menderita gizi buruk masih sangat rendah yaitu 13.3%. sedangkan balita yang pada saat usia kurang dari 6 bulan sudah diberikan makanan lain selain ASI sebanyak 87.7% (Tabel 1), hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar balita tidak diberikan ASI secara eksklusif ketika anak berumur 0-6 bulan. Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) telah dimulai ketika anak usia 0 bulan (6.7%), MP-ASI diberikan ketika anak usia 1 bulan 16.7%, usia 2 bulan 13.3%, diberikan MP-ASI ketika usia 3 bulan sebanyak 30%, anak usia 4 bulan 10% dan pemberian MP-ASI ketika anak berusia 5 bulan sebanyak 6.7%.
    Jumlah balita dalam keluarga subjek pada kegiatan ini (33.3%) adalah memiliki satu orang saudara dan 40% memiliki dua bersaudara dan yang memiliki jumlah saudaranya lebih dari dua orang sebanyak 16.7%. Bila dikaji lebih lanjut ternyata kasus gizi buruk yang merupakan anak pertama dan anak kedua masing-masing adalah sebanyak 26.7%, dan yang berstatus sebagai anak ketiga atau lebih adalah sebanyak 46.6%.
    Status keluarga balita pada menderita gizi buruk sebagian besar (86.7%) merupakan keluarga miskin (Gakin), sedangkan yang berasal dari keluarga yang i mampu (Non Gakin) sebanyak (13.3%). Dari hasil tersebut membuktikan bahwa masalah gizi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kemiskinan. Pada keluarga miskin umumnya mengalami kekurangan asupan zat gizi akibat dari ketidakmampuan keluarga untuk membeli bahan makanan yang cukup untuk konsumsi keluarganya. Keadaan tersebut bila berlangsung dalam kurung waktu yang lama akan berdampak pada kurangnya asupan zat gizi yang pada akhirnya akan berpengaruh pada status gizi keluarga khususnya pada balita.
    Distribusi pekerjaan orang tua pada anak balita yang menderita gizi buruk sebagian besar pekerjaan ayah/ibu adalah sebagai petani 20 orang (66.6%), sebagai nelayan 4 (13.3%), wiraswasta/tukang 4 orang (13.3%) dan 3,3% sebagai PNS (pengamat pengairan). Bila dikaitkan dengan status pekerjaan keluarga, hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kasus gizi buruk berasal dari keluarga miskin dan memiliki pekerjaan sebagai petani/nelayan.

    B. Hasil Pemeriksaan Antropometri

    Kasus gizi buruk yang mendapat intervensi pada kegiatan ini adalah kasus-kasus gizi buruk yang ditemukan baik melalui kegiatan Growth Trajectory maupun melalui kegiatan rutin penimbangan bulanan setiap bulan di Posyandu. Dari sejumlah kasus yang dilaporkan selanjutnya terpilih 30 kasus yang sebagian besar berdomisili di wilayah kecamatan program P2DTK. Pada kasus-kasus tersebut selanjutnya dilakukan pemeriksaan kembali antropometrinya, dengan tujuan untuk mengetahui status gizi balita sebelum dilakukan intervensi. Penentuan status gizi berdasarkan hasil pengukuran antropometri Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) disajikan dalam bentuk indikator antropometri, yaitu: berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
    Untuk menilai status gizi anak, maka angka berat badan dan tinggi badan setiap balita dikonversikan ke dalam bentuk nilai berstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006.
    Hasil pengakajian antropometri awal pada 30 balita yang dilaporkan menderita gizi buruk diperoleh bahwa berdasarkan indikator BB/U terdapat 26 Balita (86.7%) yang memiliki berat badan sangat kurang (gizi buruk), dan 4 balita (13.3%) dengan berat badan kurang (gizi kurang).
    Setelah mendapatkan intervensi selama 90 hari keadaan status gizi balita mengalami perubahan dari yang sebagian besar berstatus gizi buruk (berdasarkan indicator BB/U), telah berubah menjadi staus gizi kurang dan baik. Prevalensi gizi buruk mengalami penurunan yang signifikan dari 86.7% menjadi 46.7%, dari yang semula tidak terdapat status gizi baik akhir intervensi terdapat 10.0% yang berstatus gizi baik. Hasil intervensi menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan status gizi yang mengarah ke status gizi yang lebih baik.
    Berdasarkan indikator TB/U dilaporkan bahwa balita yang memiliki tinggi badan sangat pendek (severe stunted) terdapat 7 balita (23.3%) dan balita dengan katogori pendek (stunted) sebanyak 19 balita (63.4%) sedangkan yang memiliki Tinggi Badan normal menurut umur sebanyak 4 balita (13.3%). Hasil evaluasi pada akhir intervensi tidak menujukkan adanya perubahan yang signifikan terhadap Tinggi Badanyan.
    Sementara itu berdasarkan indicator BB/PB atau BB/TB balita dengan status Wasted (kurus) sebanyak 10 balita (33.3%) dan balita dengan status severe wasted (sangat kurus) sebanyak 9 balita (30%), balita yang memiliki status normal berdasarkan BB/TB sebanyak 11 balita (36.7%). Pada akhir intervensi keadaan status gizi berdasarkan indicator BB/TB menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Pada kategori sangat kurus (Z-score <- 3 SD) yang semula terdapat 30% menurun menjadi 3.3%, pada kategori kurus (Z-score -2 SD s/s -3 SD) yang semula 33.3% juga turun menjadi 3.3%. sedangkan status gizi normal yang semula 36.7% meningkat menjadi 83.4%, dan yang berubah menjadi status gizi gemuk sebanyak 10.0%
    C. Pemeriksaan Klinis

    Pemeriksaan klinis dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit yang sedang diderita oleh balita ataupun tanda-tanda klinis gizi buruk serta adanya riwayat penyakit yang pernah dialami oleh balita. Pada pemeriksaan klinis yang dilakukan oleh dokter puskesmas serta oleh TPG dilaporkan bahwa dari 30 balita yang mendapat intervensi penanggulangan kasus gizi secara komprehensif, balita yang sering mengalami sakit sebanyak 26 balita (86.7%), sedangkan balita yang tidak megalami sakit sebanyak 4 balita (13.3%). Penyakit yang sering diderita oleh balita selama ini antara lain : batuk, pilek, demam, dan diare. Intensitas sakit yang diderita rata-rata 5 hari dengan lama sakit yang terpendek selama 2 hari dan sakit yang terlama selama 14 hari.
    Jenis penyakit penyerta yang diderita oleh balita yang menderita gizi buruk adalah : Ispa 8 balita (26.7%), diare 2 balita (6.7%), anemia dan anokresia masing-masing 3.3%, broncopnemoni 3.3%, menderita komplikasi penyakit (Ispa, diare, kecacingan, dll) sebanyak 6 balita (20%). Sementara itu kasus gizi buruk yang disebabkan oleh kurangnya asupan zat gizi (makanan) pada keluarga sebanyak 10 balita (33.3%). Berdasarkan hasil pemeriksaan secara klinis oleh dokter sebagian kasus perlu mendapat pengobatan atas penyakit yang sedang diderita. Pengobatan dilakukan dengan pemberian obat sesuai dengan diagnosis penyakitnya, baik yang diperoleh dari puskesmas ataupun obat-obatan yang harus dibeli di apotik.

    D. Perkembangan Status Gizi Pra dan Pasca Intervensi

    Keberhasilan penanggulangan masalah Kurang Energi Protein (KEP / gizi buruk) sangat penting artinya dalam upaya penurunan angka kematian pada bayi dan anak, meningkatkan umur harapan hidup, dan produktifitas, sehingga merupakan upaya strategis dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).
    Setelah dilakukan pemeriksaan secara komprehensif (pemeriksaan, klinis, laboratorium dan pengukuran antropometri) oleh TIM Asuhan Gizi terhadap kasus gizi buruk, selanjutnya pada kasus tersebut diberikan intervensi penanggulangan kasus. Upaya intervensi dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan intervensi secaa langsung dilakukan dengan memberikan makanan tambahan pendamping ASI (MP-ASI) berupa PMT-lokal, pemberian susu formula, pemberian suplementasi zat gizi mikro berupa taburia dan pemberian multiviatmin, disamping itu dilakukan pemeriksaan klinis dan pengobatan penyakit serta dilakukan juga asuhan perawatan. Upaya penanggulangan kasus secara tidak langsung dilakukan melalui kegiatan usaha peningkatan pendapatan keluarga, pemanfaatan pekarangan, peningkatan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
    Pemberian PMT-lokal berupa menu makanan tambahan yang siklus menunya telah disusun oleh petugas gizi sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh orang tua balita dibawah pengawasan petugas yang ada di desa dan tenaga gizi puskemas. Pemberian taburia diberikan bersama-sama dengan makanan lokal/MP-ASI yang sudah siap saji dengan cara menaburkan sacet taburia yang berisi zat gizi mikro pada makanan bayi/balita. sedangkan pemberian susu formula diberikan diantara waktu makan. Pemberian PMT-lokal, taburia dan susu formula senantiasa di kontrol oleh petugas di desa dan juga oleh petugas puskesmas (TPG).
    Hasil eveluasi kegiatan penanggulangan kasus gizi buruk secara komprehensif pada akhir intervensi dilaporkan bahwa; sebagian besar kasus (86.7%) mengalami kenaikan berat badan. Kenaikan BB tertinggi selama intervensi adalah sebesar 3800 gram dan kenaikan terendah 100 gram, dengan rata-rata kenaikan BB adalah sebesar 560 gram. Balita yang tidak naik BB nya pasca intervensi sebanyak 2 balita yang terdiri dari 1 orang balita tetap BBnya dan 1 orang balita mengalami penurunan BB. Hasil kajian lebih lanjut pada 2 orang balita yang turun BBnya ternyata sedang menderita sakit Ispa beberapa hari sebelum evaluasi dilaksanakan.
    Dilihat dari perubahan status gizi sebelum dan setelah pemberian intervensi, maka dapat dilaporkan bahwa sebelum pelaksanaan intervensi status gizi awal menurut indikator antropometri BB/U, balita yang memiliki status gizi buruk (BB sangat kurang) sebanyak 86.7% dan status gizi kurang (BB kurang) sebanyak 13.3%. Setelah mendapat intervensi balita yang memiliki BB sangat kurang (gizi buruk) menurun jumlahnya menjadi 46.7% dan balita yang berstatus BB kurang (gizi kurang) menjadi 43.3%. Sementara itu balita yang berubah status gizinya menjadi status gizi normal (baik) sebanyak 10.0%.
    Berdasarkan indikator BB/TB, sebelum pelaksanaan intervensi balita yang memiliki status gizi sangat kurus sebanyak 9 orang (30%), setelah mendapat intervensi selama 90 hari, jumlah balita yang berstatus gizi sangat kurus menurun dengan tajam menjadi 1 orang (3.3%). Pada kategori “kurus” (z-scrore -2 SD s/d -3 SD) sebelum intervensi terdapat 10 balita (33.3%), setelah dilakukan intervensi jumlah balita yang kategori kurus juga mengalami penurunan yang tajam menjadi 1 orang 3.3%, sementara itu balita dengan kategori normal menurut indicator BB/TB pada awal intervensi sebanyak 36.7%, setelah intervensi balita yang berstatus normal menurut indicator BB/TB berubah menjadi 84.3%.
    Berdasarkan evaluasi yang dilakukan pada akhir intervensi maka dapat dikatakan bahwa telah terjadi perubahan yang signifikan khususnya pada kenaikan BB dan perubahan status gizi serta kesehatan balita yang lebih baik.(sumber laporan kegiatan T.A 2010 UPKD Kesehatan Banggai) Data rekap download disini REKAP GIZI BURUK P2DTK

    1 Comment

    1. p2dtksulteng said,

      March 25, 2011 at 2:52 pm

      To Pak sasli :
      Bayi yang turun BBnya terserang penyakit ISPA


    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s