JEMBATAN ANTAR DESA ANTAR PROPINSI

PEMBANGUNAN JEMBATAN GANTUNG DESA BADANGKAIA KEC.LORE SELATAN

Suara gendang dan lagu dero menemani masayarakat yang  sedang asik meluapkan rasa suka cita dan syukur  pada peresmian jembatan  armon desa badangkaia  kecamatan lore selatan kabupaten poso atas  terbangunnya jembatan yang mereka idam-idamkan sejak lama.  Rasa syukur, bangga dan rasa tidak percaya bahwa mereka mampu membangun jembatan sebesar itu, Bapak P.Towimba (mandor pembangunan jembatan) bercerita  bahwa  “selama pembangunan jembatan ini saya susah tidur memikirkan  apakah jembatan ini bisa selesai, masalahnya mereka (masyarakat) yang mengerjakan jembatan ini tidak ada yang punya pengalaman mengerjakan jembatan sebesar dan sepanjang ini  mereka punya hanya modal semangat , yang saya syukuri semua masyarakat desa badangkaia turun tangan mengerjakan jembatan ini baik perempuan maupun laki-laki dan juga bantuan masyarakat dari sulawesi selatan yang menjadikan  sungai ini menjadi jalur utama mereka untuk menditribusikan barang dagangannya. Read the rest of this entry »

Advertisements

Air Bersih Akhirnya Masuk Kerumah…!!!

TPK DESA MARGA MULYA : PEMB. 5 UNIT SUMUR DALAM & BAK PENAMPUNG/DISTRIBUSI AIR BERSIH
KEC. BUNGKU BARAT KAB. MOROWALI – SULAWESI TENGAH

Rasa SYUKUR dan PUAS yang dapat terungkap dari wajah-wajah masyarakat RT 01 dusun I desa Marga Mulya serta masyarakat dari 3 dusun lainnya, karena masalah kebutuhan air yang kurang terpenuhi selama ini, khususnya di musim kemarau, sudah bisa diantisipasi oleh swadaya usaha dan dana warga RT 01 yang ditambah dengan dana stimulan dari PNPM – DTK T.A 2010. Read the rest of this entry »

Jembatan KU

Dana Operasional Kegiatan (DOK) Didalam program PNPM DTK merupakan dana yang dip100_2164eruntukkan untuk kegiatan perencanaan yang ada dalam program PNPM DTK sesuai mekanisme Program. Salah satu hasil perencanaan yang merupakan perwujudan dari penggunaan dana DOK dalam proses perencanaan yaitu pembangunan jembatan kayu didesa Toinasa Kecamatan Pamona Barat Kabupaten Poso dengan besar dana BLM kecamatan yang dialokasikan Rp.54.685.300.dengan panjang jembatan 14 meter dan lebar 2 meter dimana didalam pelaksanaan kegiatan pekerjaan jembatan tersebut direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh masyarakat setempat, atau bahasa sehari-harinya biasa disebut swakelola.

Hal menarik dari pembangunan jembatan ini adalah ketika masyarakat memutuskan untuk mengubah desain jembatan tersebut dari jembatan kayu menjadi jembatan permanent (Jembatan Beton) dari perubahan tersebut tentu berimplikasi terhadap terjadinya pembengkakan biaya pembangunan menjadi Rp.71.047.300 dari selisih biaya tersebut sudah tentu akan dibebankan ke masyarakat untuk “berswadaya”. Yang menjadi pertanyaan Mengapa masyarakat menginginkan perubahan tersebut ? Bukankah akan membebani masyarakat itu sendiri ?, tentu jawabannya cukup sederhana yaitu Masyarakat sangat membutuhkan jembatan tersebut sebagai sarana penghubung ke penunjang ekonominya. Dari contoh ini tentu bisa membuka mata kita bahwa untuk meningkatkan keswadayaan masyarakat kita harus bisa “menyelami” apa yang masyarakat butuhkan sehingga dampaknya bukan hanya melihat seberapa besar konstribusi masyarakat tetapi bagaimana menumbuhkan sense of belonging masyarakat terhadap seluruh hasil kegiatan, yang diikuti dengan adanya kepedulian untuk merawat/memelihara atas apa yang mereka sudah bangun.(an.PMC)